Budaya Akhir Tahun Dijepang

New Year in Japan at Isawa Onsen

Membuat suasana meriah dengan dekorasi Tahun Baru

Menjelang akhir tahun tanggal 25 Desember, Di Jepang gemerlap dengan lampu-lampu dan dekorasi Natal lainnya. Namun, ketika akan memasuki tanggal 26 Desember, dekorasi Natal dilepas dan diganti dengan dekorasi Tahun Baru. Pada ornamen budaya yang  akan kalian temui pada akhir tahun dijepang adalah “kagamimochi”, dua kue mochi dari beras ketan yang ditumpuk dan di atasnya dihiasi dengan jeruk daidai, “kadomatsu”, rangkaian bambu dan daun pinus yang diletakkan di pintu masuk, dan “shimenawa”, ornamen yang terbuat dari tali yang sering ditaruh di gerbang untuk mengusir roh-roh jahat. Sering pula dijumpai dekorasi dalam bentuk shio binatang dari tahun yang akan datang, 2020 adalah Tahun Tikus.

Membuat kue mochi dengan cara tradisional

Kue mochi adalah kue Jepang yang terbuat dari beras ketan, ditumbuk sehingga lembut dan lengket, kemudian dibentuk menjadi bulat. Di Jepang, kue ini sering dibuat dan dimakan pada saat perayaan tradisional mochitsuki atau perayaan tahun baru Jepang. Kue ini dijual dan dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko kue. Mochi memiliki rasa yang khas, yaitu lembut saat pertama kali dimakan dan lama kelamaan menjadi lengket. Kue mochi salah satu makanan dan dekorasi yang paling penting untuk Tahun Baru. Namun, karena membuat kue mochi adalah proses yang melelahkan, saat ini sebagian besar dibuat memakai mesin. Tetapi, untuk Tahun Baru, hanya yang dibuat dengan cara “mochitsuki” atau proses tradisional untuk membuat kue mochi yang paling afdal. Bagaimana cara melakukan “mochitsuki”? Pada dasarnya, beras ketan untuk kue mochi yang telah direndam satu malam dan dimasak lalu ditumbuk berulang-ulang di dalam lesung dengan alu kayu besar sampai menjadi kenyal dan likat, sehingga siap dibentuk menjadi kue. Kue mochi dalam jumlah banyak biasanya dibuat pada hari-hari menjelang malam tahun baru dan dihias dalam tatanan kagami-mochi dan digunakan untuk hidangan seperti ozoni.

Menyantap soba “toshikosi” pada malam tahun baru

Memiliki arti soba “pergantian tahun”, soba “toshikosi” di Jepang disantap sebagai hidangan terakhir dalam suatu tahun. Hidangan ini mempunyai tujuan praktis sekaligus simbolis, karena untuk mempersiapkan Tahun Baru sudah menghabiskan banyak waktu, maka hidangan sederhana berupa mi tipis yang terbuat dari buckwheat ini akan dapat membantu meringankan beban. Tampaknya, arti simbolis kemudian muncul, yang berbeda-beda tergantung siapa yang Anda tanya, tetapi sebagian besar orang percaya bahwa mi yang panjang itu dapat memberi berkah umur panjang. Selain itu, dipercayai bahwa kita bisa memperoleh nasib buruk jika belum menghabiskan hidangan mi tersebut pada saat tahun baru tiba.

Cara penyajian Setelah direbus, soba dicuci dengan air dan didinginkan lebih dulu sebelum dihidangkan. Soba dimakan setelah dicelup ke dalam kuah yang disebut tsuyu. Soba yang disajikan dingin seperti ini disebut morisoba atau zarusoba. Selain itu, soba juga dimakan panas-panas sebagai soba kuah yang disebut kakesoba (susoba). Sewaktu dimakan, soba boleh diseruput hingga mengeluarkan suara. Cara makan seperti ini justru dianjurkan, karena merupakan pujian kepada juru masak bahwa makanan yang dimasaknya enak. Sewaktu memakan morisoba (zarusoba), saus tidak boleh dituangkan ke atas mi agar nampan atau meja yang ada di bawahnya tidak basah.

Memukul genta tahun baru di kuil

Tradisi tahun baru di Jepang amat banyak berkaitan dengan upacara pemurnian diri. Ritual ini di Jepang dikenal dengan nama “joya no kane”, dan dilaksanakan di kuil-kuil Buddha di seluruh Jepang pada hari terakhir dalam suatu tahun. Genta kuil dipukul sebanyak 108 kali, yang melambangkan 108 godaan dunia seperti yang diajarkan dalam agama Buddha, dan dengan demikian tindakan tersebut merupakan cara untuk melepaskan diri kita dari dosa-dosa itu untuk mempersiapkan memasuki tahun baru sebagai pribadi yang bersih dan baru. Sejumlah kuil mengizinkan pengunjung untuk memukul genta setelah upacara selesai. Sejumlah orang percaya melakukan hal itu dapat memberikan keberuntungan.

Menyaksikan terbitnya matahari pertama kali di tahun yang baru

Jepang dikenal dengan “negeri matahari terbit”, tak heran kalau banyak orang Jepang yang memegang keyakinan bahwa matahari terbit yang pertama kali pada suatu tahun, atau “hatsuhinode”, memiliki aspek supernatural. Berdoa pada saat matahari mulai muncul di ufuk untuk pertama kali dalam tahun yang baru dikatakan memberi keberuntungan, khususnya jika dilakukan di tempat-tempat yang pemandangan matahari terbitnya sangat indah. Banyak orang bepergian ke gunung atau ke pantai, menunggu terbitnya matahari dan memulai tahun dengan semangat yang baru.

Makan, makan, dan terus makan

Ada dua jenis hidangan yang utama disantap pada saat perayaan Tahun Baru di Jepang: “osechi” dan “ozoni”. Tentu saja, keduanya lezat. Osechi punya tradisi panjang mulai era Heian (795-1185). Di kala itu, orang-orang Jepang amat mempercayai takhayul, dan percaya bahwa memasak atau menggunakan tungku pada 3 hari pertama tahun baru akan mengakibatkan nasib buruk. Karenanya, semua sajian yang disantap pada hari-hari tersebut perlu dipersiapkan sejak sebelum tahun baru. Karenanya, jenis-jenis makanan yang tetap awet selama beberapa hari merupakan bagian tak terpisahkan dari hidangan osechi: penganan yang direbus hingga kaldunya meresap, sajian yang terdiri dari bahan-bahan yang dikeringkan, dan acar atau asinan merupakan jamuan utama dari makanan saat Tahun Baru. Selain itu, masing-masing hidangan memiliki makna simbolis berkaitan dengan panjang umur, kesehatan yang baik, kesuburan, kebahagiaan, dan masih banyak lagi–menambah nasib baik seseorang jika disantap.

Ozoni sebenarnya dimulai oleh para samurai sebagai sup bergizi yang dapat dimasak di medan perang, dan kaitannya dengan Tahun Baru dimulai pada abad ke-16 pada akhir periode Muromachi. Bahan utama ozoni adalah kue mochi, dan selain itu, hidangan ini dapat diramu sesuai selera, tidak terhitung lagi banyaknya jenis kaldu yang digunakan untuk ozoni serta bahan-bahan yang digunakan untuk sup di masing-masing wilayah serta masing-masing keluarga.

Bersulang untuk tahun yang baru dengan sake obat

Sebuah kebiasaan yang utamanya dijalankan di wilayah barat Jepang, yaitu sake obat, atau “toso” diminum pada pagi hari tahun baru oleh semua anggota keluarga dengan perangkat sajian tradisional yakni 3 piring dangkal yang ditumpuk satu di atas yang lain. Sake ini mengandung ramuan berbagai tanaman dan dengan meminumnya, diyakini bahwa segala nasib buruk yang masih tersisa dari tahun sebelumnya akan terbilas bersih sekaligus dapat memperoleh umur panjang dan kesehatan yang baik. Ritual ini lebih untuk upacara daripada untuk memuaskan dahaga, hanya beberapa sisip kecil sudah cukup.

Melakukan doa pertama di sebuah kuil atau tempat suci

Dalam tiga hari pertama Tahun Baru, bahkan orang Jepang yang tak punya perasaan keagamaan atau spiritualitas yang kuat sekalipun akan mendatangi kuil atau tempat suci untuk melakukan doa pertama di awal tahun, ini adalah tradisi yang selalu dilakukan. Dalam saat awal tahun semacam ini, kita akan melihat banyak sekali orang antre untuk memberikan persembahan kecil (lima yen dipercaya sebagai yang paling memberi keberuntungan) dan di dalam hati menyampaikan harapan mereka pada tahun yang baru itu kepada dewa yang disucikan di sana. Karena suhu dapat saja cukup dingin, banyak kuil yang juga akan menyediakan “amazake” gratis, yakni minuman yang lembut dan manis terbuat dari fermentasi beras yang umumnya disajikan hangat-hangat. Para peziarah juga bisa mengambil lidi suci untuk menerima ramalan tertulis tentang tahun yang akan datang, serta membeli jimat untuk tahun yang baru, serta mengembalikan jimat dari tahun sebelumnya untuk dibakar pada sebuah upacara resmi.

Membeli “omamori” agar memperoleh nasib baik

Suatu istilah yang digunakan untuk segala jenis jimat, omamori secara tradisi dibeli di kuil dan tempat suci. Berbagai omamori disediakan untuk berbagai jenis tujuan–baik itu untuk mengusir roh jahat, agar mendapat jodoh, memperbaiki keadaan keuangan, memastikan keselamatan kelahiran, dan lain-lain. Bentuknya juga bermacam-macam–yang paling sering dijumpai adalah seperti amplop hias kecil (jangan dibuka karena akan mengurangi keampuhannya!), tapi juga ada yang dalam bentuk anak panah untuk menumpas setan (“hamaya”). Jangan sekali-kali membakar jimat, jampi-jampi, atau mantera! Apabila Anda harus membuangnya, taruhlah di sebuah kuil untuk dibakar pada sebuah upacara resmi.

Memberi amplop uang untuk anak-anak

Selain saling bertukar hadiah pada saat Natal secara relatif jarang dilakukan, anak-anak di Jepang tidaklah kekurangan hadiah. Di jepang anak-anak dapat menabung karena mendapat “otoshidama”, yakni amplop-amplop kecil berpola yang berisi uang. Anak-anak biasanya dapat memperoleh otoshidama dari orang tua dan keluarga lainnya, dalam jumlah yang makin banyak seiring bertambahnya usia mereka menuju kedewasaan (semua anak dalam satu keluarga biasanya menerima jumlah yang sama agar tidak ada yang merasa dianaktirikan). Mungkin hadiah semacam ini terasa kurang pribadi, tapi anak-anak bebas untuk membelanjakan uang mereka sesuai keinginan

Menikmati permainan dan kegiatan tradisional

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk merayakan tahun baru di Jepang, dan berbeda-beda di masing-masing keluarga. Beberapa yang paling populer adalah memainkan permainan tradisional seperti “hanetsuki”, yaitu permainan seperti bulu tangkis dengan raket kayu berhias, atau gasing, bermain layang-layang, atau “karuta” adalah permainan kartu gaya kuno. Kegiatan tradisional lainnya, seperti kaligrafi dan membaca puisi juga sering dilakukan. Menyaksikan pertunjukan Simfoni Kesembilan Beethoven juga merupakan hal yang cukup populer di kalangan generasi yang berusia lebih tua, yang entah mengapa di Jepang memiliki kaitan yang kuat dengan tahun baru. Dengan demikian, sejumlah keluarga cukup puas dengan bermain beberapa permainan dan menikmati kebersamaan untuk merayakan tahun baru mereka.

About Author


jellyfish

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *